Setiap Muslim hendaknya memiliki sikap yang tepat dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan yang bersifat furu‘iyah disikapi dengan membenarkan semua yang berbeda, sementara perbedaan us’uliyah perlu ada sikap toleransi yang membiarkan tanpa membenarkan. Bukan sebaliknya, menyikapi perbedaan jenis pertama dengan penuh kebencian dan pertentangan, sebaliknya pada perbedaan jenis kedua seseorang begitu ramah, toleran, dan akomodatif, bahkan kadangkala menyebut semua perbedaan itu adalah sama dan benar. Semoga Allah menuntun sikap dan bentuk toleransi yang benar kepada seluruh umat Islam di dunia.
Baca selengkapnya »Pengertian Syiah (Bagian ke-2): Definisi Syiah Secara Epistemologi (Istilah)
Secara redaksi para ulama' Syiah juga tidak satu kata dalam mendefinisikan Syiah; sebagian berpendapat bahwa Syiah adalah pengikut Ahlu al-Bait, sebagian berpendapat bahwa Syiah adalah kelompok Ali bin Abi Thalib, yang mendukungnya serta mengangkatnya menjadi pemimpin, sebagian mengatakan bahwa Syiah adalah kelompok yang berkeyakinan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin pasca-meninggalnya Nabi tanpa jeda waktu, serta membelanya dengan penuh loyalitas, sebagian menambahkan kategori lain yaitu adanya naskah tertulis dan wasiat dari Nabi.
Baca selengkapnya »Membaca Basmalah dan Shalawat di Awal Majelis dan Membaca Kaffaaratul Majlis
'Dianjurkan untuk menyebut nama Allah dan bershalawat atas Rasul-Nya ketika hendak bangun dari majelis, dan kesimpulannya bahwa sunnah dalam berdzikir dan shalawat dengan lafaz mana pun, tetapi yang lebih sempurna adalah dzikir dengan: Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan memuj-iMu, Aku bersaksi Tiada Ilah Kecuali Engkau, aku memohon ampunan-Mu, dan aku bertobat kepada-Mu. Sedangkan bacaan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bacaan yang ada pada akhir tasyahud.” (Faidh Al Qadir, 5/560. Cet.1. 1415H-1994M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut)
Baca selengkapnya »Pengertian Syiah (Bagian ke-1): Definisi Syiah Secara Etimologi (Bahasa)
Ibnu Atsir berpendapat bahwa Syiah bermakna firqatun min an-nās (sekelompok manusia). Bisa dipakai untuk lafal mufrad (singular/tunggal), mutsannā (dua pelaku) dan jama' (plural/banyak). Dapat dipakai untuk lafal Mudzakkar (masculine) maupun muannats (feminine). Namun lafal ini kemudian populer sebagai sebutan bagi mereka yang mendukung Imam Ali dan keluarganya sebagai pemimpin, sehingga menjadi nama yang sangat khas bagi kelompok ini.
Baca selengkapnya »Abu Lahab dan Ummu Jamil, Suami-istri yang Kehilangan Tangan Peradaban
Mendengar ini, mereka pun datang dengan konvoi, atau datang sendiri-sendiri. Yang tidak sempat datang, ia mengutus hambanya, pembantunya, atau wakilnya. Di antara mereka yang datang, Abu Lahab, paman Nabi Muhammad Saw.
Baca selengkapnya »Strategi Menghadapi Aliran-Aliran Sesat di Sekitar Kita (Bagian ke-4, Selesai)
Kewajiban berdakwah ini selain dibebankan kepada komunitas muslim –sebagaimana disebutkan oleh ayat 114 surat Ali Imran-, juga dibebankan kepada individu, sehingga jika setiap individu memiliki tanggung jawab untuk melakukan dakwah, peduli dengan masyarakatnya, maka secara komunitas akan tercipta suasana saling mengingatkan, saling menasehati, dan saling tolong menolong di antara mereka. Kondisi inilah yang memancing turunnya rahmat dari Allah, sehingga menjadi masyarakat yang baik yang selalu mendapatkan pengampunan dari Allah
Baca selengkapnya »Status Hadits “Aku Adalah Kotanya Ilmu dan Ali Adalah Pintunya…”
Dalam hadits-hadits shahih, banyak diceritakan tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib, maka cukuplah kita dengan riwayat-rawayat tersebut. Bahkan keutamaan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, juga tertera dalam Alquran. Di antaranya: هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ “Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” (QS. Al Hajj (22): 19)
Baca selengkapnya »Strategi Menghadapi Aliran-Aliran Sesat di Sekitar Kita (Bagian ke-3)
Untuk membedakan dengan kelompok dan aliran lainnya, Ahlu Sunnah menyepakati prinsip-prinsip aqidah dan pemikiran yang dijadikan basis dasar keyakinannya, yang di antaranya dapat dijelaskan dalam pokok-pokok masalah berikut
Baca selengkapnya »Strategi Menghadapi Aliran-Aliran Sesat di Sekitar Kita (Bagian ke-2)
Ahlu Sunnah wa al-Jama'ah adalah nama lain dari Islam itu sendiri. Untuk itu istilah ini tentu saja tidak muncul dan tidak perlu dimunculkan di awal-awal penyebaran Islam kecuali dalam batas penjelasan terhadap makna Islam itu sendiri; karena kandungan lafal ahlu as-sunnah wa al-jama'ah sesungguhnya telah terangkum dalam lafal Islam tersebut.
Baca selengkapnya »Strategi Menghadapi Aliran-Aliran Sesat di Sekitar Kita (Bagian ke-1)
Sesat dalam bahasa Arab disebut adh-dhalal. Dari lafal dlalla-yadhillu-dhalal. Dhalal bermakna: suluk tariqin la yuwasshiluhu ila al-mathlub (menapaki jalan yang tidak menyampaikan kepada tujuan). Sementara Ad-dhal (orang yang tersesat) bermakna Kullu man inharafa ‘an dinillah al-hanif (Setiap orang yang menyimpang dari jalan Allah yang lurus). [2]
Baca selengkapnya »