Aku mengenalnya di suatu senja, saat aku dan Kalila tengah asyik menikmati kesejukan senja di tepian sungai Martapura. Laki-laki itu datang menghampiri dan menyapa Kalila, kemudian mereka ngobrol begitu akrab. Kalila tak pernah mengenalkan aku padanya. Mereka terus saja bicara seputar kepenulisan yang sama sekali tidak aku mengerti. Ya! Mereka satu organisasi penulis yang entah apa itu namanya. Sekilas matanya menatap ke arahku yang hanya berdiam diri menikmati nyanyian sungai yang mengalun tenang. Kutangkap senyum tulusnya dan aku mengangguk hormat membalas senyumnya. Tak lebih dari satu menit aku menatapnya. Tak jua sepatah kata apapun, hanya seulas senyuman yang mengawali perkenalanku dengannya.
Baca selengkapnya »Hati yang Terpilih
Masih dalam kebimbangan yang sama. Nayla masih larut dalam syair-syair lagu nasyid pernikahan. Mendadak hatinya meragu, apa yang salah dengan dirinya hingga terasa begitu sulit baginya untuk meniti jalan itu. “Nayla sudah siap menikah?” tanya Umi Aina pekan lalu. Pertanyaan Murabbiyahku itu sontak menghadirkan desir hebat di hatiku.
Baca selengkapnya »Maukah Kau Menjadi Istri Mudaku?
“Ida malu, Ma, atas kebodohan Ida selama ini. Ida nggak mau membuat Mama, Ayah, dan juga Isa menjadi malu dengan kelakuan Ida. Mungkin, hari ini Ida nggak akan pulang ke rumah. Jaga diri mama baik-baik ya, Ma. Ida benar-benar minta ampun.”
Baca selengkapnya »Ikhwan Yang Kucintai, Menikah Dengan Murabbiyahku
Setetes butiran bening jatuh dari mataku. Segera kuseka dengan jemariku sebelum tetesannya terlanjur melunturkan ungkapan hati itu. Kulipat kembali kertas itu dan kukembalikan ke tempatnya. Aku pun kembali menuju ranjang tanpa sempat memungut buku yang tadinya ingin kubaca. Kubenamkan wajahku di bantal, dan tangisku pun pecah menyeruak.
Baca selengkapnya »