dakwatuna.com – Setiap tanggal 27 Rajab, dunia Islam memperingati hari Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw. Di Indonesia, hari ini dijadikan sebagai hari libur nasional dan bagian dari Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Berbagai kegiatan menyambut dan memperingati hari besar ini dilakukan umat Islam dengan puncak kegiatannya Tabligh Akbar. Kita berharap, peringatan tahun ini memberikan banyak manfaat dalam kehidupan umat. Jangan sampai peringatan hanya sebatas seremonial belaka tanpa memberi makna. Kita jadikan peringatan Isra’ Mi’raj sebagai momen kebangkitan Islam untuk kembali menyusun kekuatan demi kejayaan dan izzah (kemuliaan) kaum muslimin. Untuk itu, umat harus mampu memaknai peringatan hari besar ini sehingga melahirkan ruh kebangkitan dalam diri umat Islam. Disinilah peran signifikan para ulama dan umara dalam mewujudkan makna tersebut.
Ada empat ruh (semangat) dan manfaat yang dapat kita kemukakan dan renungkan pada tulisan ini.
Pertama, meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah Yang Mahakuasa. Peristiwa Isra’ Mi’raj tidak bisa hanya diterima dengan mengunakan akal semata karena keterbatasannya. Namun, harus dibarengi dengan kekuatan iman. Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan kejadian luar biasa yang terjadi karena kekuasaan Allah, bukan atas kehendak Rasul yang tentu memiliki keterbatasan. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Apa yang diinginkan-Nya pasti terjadi, seperti peristiwa Isra’ Mi’raj. Hal ini merupakan kebesaran dan keagungan-Nya.
Untuk itu, dalam melahirkan kebangkitan Islam, umat harus memperkokoh keyakinan dan ketakwaannya kepada Allah. Hal ini menjadi pilar utama dalam menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi umat . Secara jujur, kita kemukan bahwa saat ini, mayoritas umat Islam di belahan bumi manapun, dalam kondisi memprihatinkan. Umat Islam menjadi “santapan lezat” bagi kelompok kafir di seluruh dunia . Berbagai bentuk peperangan diarahkan pada umat Islam, baik perang fisik seperti yang terjadi di Timur Tengah atau perang media (propaganda) dengan memunculkan isu-isu kontroversi seperti terorisme, fundamentalis, hak asasi manusia, demokrasi, dan lain sebagainya.
Hal ini hendaknya disadari oleh umat terutama pemimpin Islam dan berusaha bangkit menghadapi konspirasi global untuk menghancurkan Islam dan umatnya ini. Dengan memperingati hari Isra’ Mi’raj tahun ini, semua kita harus berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt sebagai satu bentuk kekuatan yang mendasar dalam kebangkitan Islam.
Kedua, meningkatkan kualitas shalat. Buah manis dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah perintah menunaikan shalat. Shalat merupakan kekuatan dahsyat yang akan menghubungkan diri hamba dengan Khaliknya. Dengan shalat, kita dapat Mi’raj menuju Allah, berkomunikasi dan bermunjat indah dengan Yang Mahakuasa. Oleh karena itu, tidak boleh seorang muslim pun yang melalaikan shalat apalagi meninggalkannya. Sesungguhnya yang membedakan seorang mukmin dengan orang kafir adalah shalatnya.
Untuk melahirkan ruh kebangkitan Islam, umat Islam harus memperbaiki kualitas shalatnya. Shalat yang berkualitas akan berpengaruh terhadap kualitas umat Islam itu sendiri. Dirasakan sekali bahwa umat Islam hari ini sedang terjajah baik secara fisik maupun secara ideologi. Umat belum berani memakai ideologinya sendiri yang termuat di dalam al-Quran dan Hadits yang kebenarannya tidak diragukan lagi.
Kita masih memakai undang-undang produk barat atau peninggalan penjajah dalam mengatur kehidupan sendiri. Sementara hukum Allah yang berisikan kebenaran, justru kita jauhkan dari kehidupan nyata umat. Hal inilah yang menyebabkan umat Islam berada dalam kehinaan dan kenestapaan. Untuk itu, kinilah saatnya umat Islam bangkit dengan memperbaiki kualitas shalat. Sehingga dengan demikian, hidupnya juga akan berkualitas dalam menghadapi tantangan yang semakin berat.
Ketiga, meningkatkan penguasaan teknologi dan informasi. Peristiwa Isra’ Mi’raj memberikan isyarat pada kita tentang perlunya umat Islam menguasai teknologi dan informasi. Perjalanan jauh Rasulullah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina dan terus naik ke atas langit menuju Sidratul Muntaha mengambarkan bahwa untuk menguasai dunia saat ini membutuhkan kemampuan umat di bidang teknologi dan komunikasi.
Dalam surat ar-Rahman ayat 33 kita diperintahkan untuk menembus penjuru langit (ruang angkasa) dan penjuru bumi dengan mengunakan sulthan (kekuatan). Sulthan inilah yang disebut dengan kemampuan menguasai teknologi dan komunikasi.
Hari ini, teknologi dan komunikasi dikuasai oleh orang barat. Umat Islam hanya dijadikan sebagai sasaran dan lahan pemasaran dalam meraup keuntungan besar bagi kepentingan mereka. Kekuatan inilah yang mereka jadikan sebagai usaha mengucilkan peran umat Islam dalam memajukan peradaban dunia.
Oleh karena itu, umat Islam -terutama generasi muda- harus bangkit untuk belajar dan terus belajar menguasai teknologi dan informasi dalam mengejar ketertinggalan selama ini. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat Islam pernah berjaya pada masa abad pertengahan sebagai pusat pengetahuan dan teknologi dunia yang berpusat di kota Baqdad, Irak.
Keempat, meningkatkan kepedulian terhadap Palestina. Palestina adalah negeri tempat Rasulullah Isra’ dari Makkah dan negeri bermulanya Mi’raj ke langit menuju Sidratul Muntaha. Di negeri ini berdiri Masjidil Aqsha sebagai kiblat pertama umat Islam dan masjid suci yang ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Palestina merupakan milik umat Islam dunia, tempat lahirnya para Nabi dan utusan Allah yang harus dijaga dan dibela sampai dunia menutup usianya. Persoalan kemerdekaan negara Palestina bukanlah semata urusan negera Palestina semata, namun tanggungjawab dunia Islam seluruh penjuru dunia.
Di sini, di negeri ini, kita masih bisa dengan tenang melaksanakan aktivitas harian dan beribadah tanpa ada ganguan dari pihak manapun. Di sana, di negeri para syuhadah (Palestina), saudara yang seiman dan seaqidah dengan kita justru menderita dalam cengkraman Zionis. Mereka diserang dengan membabi buta oleh tentara Yahudi tanpa ada pembelaan nyata dari pemimpin Timur Tengah yang sibuk mempertahankan kekuasaannya.
Sementara di sini, di negeri ini, kita tidak banyak berbuat untuk keselamatan mereka. Jadilah Palestina negeri terasing di tanahnya sendiri, masih terjajah disaat negara lain sudah banyak merdeka dan negeri yang tetap istiqamah melahirkan para syuhada’ dalam menyuburkan semangat juang mempertahankan harga diri umat Islam dunia. Maka, kinilah saatnya kita membela Palestina dengan kekuatan doa dan dana demi membantu perjuangan mereka meraih kemerdekaan yang abadi.
Redaktur: Pirman
Beri Nilai: